" “Tuhan memang satu, kita yang tak sama”. Kalimat sederhana itu kedengarannya manis, tapi sesungguhnya menyimpan banyak cerita dari banyak manusia yang harus menerima kenyataan miris “mengapa harus keyakinan memisah cinta kita?”. " begitulah kalimat yang pernah aku baca disalah satu akun twitter orang. heuuheuu:3
Cinta memang tak pernah salah. Cinta juga bisa tumbuh kapan saja, di mana saja. Ia pun sering datang tanpa lebih dulu ketuk pintu hingga tiba-tiba saja mereka yang kejatuhan cinta seketika bahagia dan lupa. Lupa bahwa ada keadaan dan batas yang seringkali membuat cinta menjadi salah, bisa salah waktu, bisa juga salah keadaan. Cinta beda agama mungkin sebuah “cinta salah keadaan".
Aku merasa menemukan bahagia yang baru bersamanya, meski aku tahu ada tembok nyata di antara kita. Tembok itu adalah keyakinan. Tembok bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja oleh sebuah janji.
Aku harus bisa mengerti bahwa ujung cerita cinta bisa jadi tak seindah dengan banyaknya hal manis yang terjadi ketika cinta itu tumbuh dan dijalani. tentu aku tidak bisa begitu saja melarikan diri dari tantangan ini
Iya, beda agama itu yang membuat miris. Di saat hati sudah menyatu, ternyata kepercayaan kita yang berbeda. - Juliana Karo-karo
Cinta membuat kita kalap mata, buta terhadap risiko, nekat menerobos rambu-rambu dan ya begitu yang akhirnya terjebak pada situasi rumit yang sebenarnya bisa dihindari sejak awal. Kita terjebak pada dilema yang kita ciptakan sendiri. Ketika sudah masuk pada ‘pertemuan-pertemuan berikutnya’, pilihan jatuh cinta adalah pilihan dengan kesadaran. Kita tahu artinya. Termasuk jalan terjal yang mungkin akan ditempuh. Kita sadar risikonya.
Sayangnya, tidak setiap dari kita bisa memilih takdir yang kita suka…
x